Terbaik

loading...

Potret Pendidikan Kalimantan Tengah

Sebenarnya artikel Potret Pendidikan Kalimantan Tengah pernah manusia biasa posting disalah satu blog saia. Tapi karena blog tersebut telah manusia biasa tutup gak rela artikel tersebut hilang tanpa di baca terpaksa manusia biasa post dimari. Semoga agan-agan yang masuk di blog ini tidak bosan membaca artikel ini lagi.
Berawal dari pulang kampung kemarin, sabtu (27/06/09) ini menjadi hal yang membuat pilu hati saya sebagai salah satu anak “uluh itah” melihat pembangunan disektor pendidikan yang sangat jauh dari yang saya harapkan.
Membicarakan masalah Pendidikan pada umumnya orang – orang yang diatas selalu berbica berdasarkan fakta yang ada di atas meja mereka, lalu apakah mereka pernah melihat atau terjun secara langsung ke lapangan??? saya rasa mungkin iya, tapi hanya di kota – kota besar nya saja, lantas pernakah mereka terjun langsung dan memantau barang sekilas kepelosok desa yang bisa dibilang tertinggal dari desa – desa lainnya??? Jawabnya mungkin iya, mungkin juga tidak. Lantas kenapa saya mengangkat berita dengan judul “Potret Pendidikan Kalimantan Tengah”.

Inilah hasil penelusuran saya. Salah satu desa yang teletak di Propinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kecamatan Kahayan Tengah yaitu desa TAMBAK, yang rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai Penambang Emas Ilegall ini. Memiliki berjuta kisah yang memilukan tentang Pendidikan, kenapa tidak sebagian dari penghuni dari desa ini, hanya mampu mengecap pendidikan sampai Tingkat SD. Lantas Kenapa???? Semua bermula pada saat saya berkunjung kerumah kakek saya, dan sesampai disana, kemudian saya dan paman saya bercerita secara mendalam tentang potensi desa yang dikatakannya sangat terpuruk di bidang Pendidikan. Seperti yang dikatakan Paman Saya ini, dia mengatakan bahwa dia sangat kecewa dengan pemerintah, ditengah mereka mengumbar janji tentang Sekolah Gratis Sekolah yang ada – ada saja tidak dilengkapi dengan fasilitas yang ada, sebut saja didaerah ini yang dia rasa sangat minim tenaga kerja sebagai Guru.

Kemudian saya tanyakan lagi dengan Paman saya, seberapa jauh kemauan anak – anak di desa Tambak ini untuk bersekolah???? untuk niat dan minat anak – anak disini memang tak kalah dengan semangat dengan anak – anak di desa lainnya dan di kota – kota. Yang menjadi masalah adalah Kualitas dan kuantitas lulusan anak – anak sekolah yang ada disini, Kata nya. Lelaki yang sudah berkeluarga dan mempunyai 4 orang anak ini pun menambahkan juga bahwa anak – anak di desa ini, jika kemampuannya di tingkat SD kelas 4 setara dengan pendidikan anak sekolah dasar kelas 1, itu semua karena anak kelas 4, hanya dan baru bisa mengimla dan mengeja saja sedangkan anak – anak di kelas 1 dikota – kota besar sudah mampu membaca membaca sedikit demi sedikit katanya.

Lanjut lebih mendalam ternyata setelah lulus dari sekolah dasar yang ada disini (desa Tambak), anak – anak di desa ini banyak yang melanjutkan pendidikan kekota, dan hasilnya nihil alias kegagalan, dimana setiap mereka yang melanjutkan pasti selalu pulang kampung dan lebih baik bekerja sebagai pendulang emas. Itu semua karena mereka tidak dapat mengikuti pelajaran yang diberikan guru – gurunya yang ada di sekolah mereka. Alhasil adalah pulang kampung dengan Menyadap Karet merupakan solusinya, katanya.

Menelisik lebih mendalam lagi, yang membuat saya tambah bersedih hati adalah pernyataan paman saya tentang kualitas guru yang sebagai pengayom dan tenaga pendidik tidak ada sama sekali, pasalnya para guru-guru yang ada didesa ini melakukan hal yang dibilang licik untuk meninggalkan pekerjaan mereka melakukan kredit besar-besaran dengan kapasitas gaji yang mereka terima, kemudian gaji mereka sudah habis lalu apa??? kerja untuk mengajar pun tak karuan alhasil kerja sampingan sebagai penyadap getah dan penambang emas mereka lakukan dari pada mengajar dengan gaji yang udah habis buat bayar kredit. Begitu lah kata paman saya…………………

Seakan tidak puas dengan pertanyaan paman saya lalu saya pun memanggil salah satu bocah kelas 5 SD yang lewat didepan kami kemudian saya tanyakan dengan dia. Coba nyanyikan lagu Indonesia Raya? lalu apa yang saya dapatkan satu kata “Dia Tau” (Nggak Bisa). Lalu saya sodorkan sebuah majalah. Lagi – lagi jawaban “dia tau” yang saya dapatkan. Sungguh ironis, ditengah persaingan pendidikan berbasis teknologi yang kian menggila banyak diluar sana para anak-anak belum secara maksimal menikmati dan mengecap nikmatnya dunia pendidikan.

Tapi inilah kenyataan pahit yang memang haru kita terima, kedepannya saya harapkan pendidikan di Kalimantan Tengah dapat beranjak kearah yang lebih baik dari ini. Dan saya harapakan juga Potret Pendidikan Kalimantan Tengah seperti ini tidak terulang lagi dimasa mendatang, setidaknya pemerintah Kalimantan Tengah dapat mengurangi jumlah anak – anak yang putus sekolah. Dan semoga saja anak cucu kita nanti dapat merubah Potret Pendidikan Kalimantan Tengah sekarang ini mejadi Potret Pendidikan Kalimantan Tengah yang lebih baik dimata Indonesia lebih – lebih jika Potret Pendidikan Kalimantan Tengah dimata dunia.

Mudah-mudahan saja artikel ini dapat dibaca oleh para mereka – mereka yang duduk disana, dan dapat bermanfaat bagi masyarakat Kalimantan Tengah terutama anak-anak Uluh Itah yang biasa hidup nikmat diluar sana.

Are Kawal Ketun je dia tau sakula, buhen ketun bakulas sakula!!!!!!! 
0 Komentar untuk "Potret Pendidikan Kalimantan Tengah"

Cara Isi komentar
jika punya ID/blog berikan komentar anda melalui:
Id Blogger, Open ID (LiveJournal, WordPress, TypePad, AIM), Nama/URL.

BAGI yang tidak punya website/Datang dari search engine seperti Google, yahoo!!!, blog-indonesia dll.
Silahkan gunakan pilihan Anonymous tapi ini tidak disarankan bagi yang punya blog!!!!!

Komentar yang mengandung unsru SARA akan dihapus oleh ADMIN. Terima Kasih atas kunjungan anda!!!!

Back To Top